Profile

Investigasi Ungkap Dugaan Kampanye Terorganisir Israel Gunakan Eurovision sebagai Alat Soft Power

  • Administrator
  • Selasa, 12 Mei 2026
Investigasi Ungkap Dugaan Kampanye Terorganisir Israel Gunakan Eurovision sebagai Alat Soft Power

Foto: Eurovision / Dok. Eurovision

 

Sebuah investigasi yang dilakukan oleh The New York Times mengungkap dugaan adanya kampanye terorganisir oleh pemerintah Israel untuk memanfaatkan ajang Eurovision Song Contest sebagai sarana soft power. Laporan tersebut menyebutkan bahwa Israel menjalankan kampanye pengaruh yang didukung negara dalam beberapa edisi Eurovision guna memperbaiki citra internasional serta membangun dukungan global.

 

Menurut laporan tersebut, pemerintah Israel telah menjalankan strategi promosi sejak 2018 dengan mengalokasikan dana pemasaran sedikitnya 1 juta dolar AS. Sebagian anggaran berasal dari kantor hasbara milik Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, yang bertugas mengelola citra publik negara. Bahkan pada 2024, sekitar 800 ribu dolar AS disebut dialokasikan khusus untuk promosi ajakan memilih peserta Israel dalam kompetisi tersebut.

 

Meski aturan Eurovision melarang intervensi pemerintah dalam sistem pemungutan suara, Direktur Eurovision, Martin Green, menyatakan bahwa meskipun upaya promosi Israel tergolong berlebihan, hal itu tidak memengaruhi hasil akhir kompetisi. Israel tercatat meraih posisi kedua pada 2024 melalui penyanyi Eden Golan dan kembali finis di posisi serupa pada 2025 lewat perwakilan Yuval Raphael.

 

Investigasi juga menyebut bahwa kemenangan suara publik Israel di sejumlah negara yang secara politik kurang bersimpati terhadap Israel memicu spekulasi manipulasi. Namun, tidak ditemukan bukti penggunaan bot atau metode tersembunyi untuk memengaruhi hasil akhir. Tahun lalu, Netanyahu bahkan sempat mengunggah ajakan di media sosial agar masyarakat memberikan suara maksimal—sebanyak 20 kali—kepada Raphael, yang kemudian turut disebarkan oleh berbagai kelompok pro-Israel di Eropa.

 

Strategi tersebut mendapat pembelaan dari penulis lagu Eurovision asal Israel, Doron Medalie, yang menyebut kritik terhadap Israel muncul karena kecemburuan atas hasil kompetisi yang dinilai sukses. Meski demikian, setelah Eurovision 2025, sejumlah lembaga penyiaran nasional meminta transparansi data voting dan mendorong investigasi independen. Permintaan analisis suara secara menyeluruh disebut tidak pernah sepenuhnya diberikan kepada para penyiar.

 

Tekanan terhadap sistem voting terus meningkat. Pemerintah Spanyol sempat meminta debat resmi mengenai partisipasi Israel serta perubahan mekanisme penilaian dalam pertemuan penyiar di London. Veteran penyiaran Republik Ceko, Petr Dvorak, kemudian diminta mewawancarai anggota European Broadcasting Union dan menyimpulkan bahwa sebagian pihak menilai Israel memang menggunakan Eurovision sebagai alat promosi negara.

Sebagai respons, aturan baru disepakati melalui pemungutan suara tertutup: mulai kompetisi 2026, jumlah maksimum voting per penonton dikurangi dari 20 menjadi 10 suara. Namun laporan menyebut tim di balik wakil Israel tahun ini, Noam Bettan, sudah mempromosikan kampanye media sosial yang mengajak publik memberikan suara penuh sebanyak 10 kali—sesuatu yang kembali dikritik oleh penyelenggara karena dianggap tidak sejalan dengan semangat kompetisi.

 

Israel tetap dijadwalkan tampil dalam Eurovision 2026 yang dimulai pada Selasa (12 Mei). Dalam surat terbuka kepada penggemar, Green mengakui adanya emosi kuat publik terkait situasi geopolitik di Timur Tengah, tetapi menegaskan bahwa Eurovision harus tetap berpegang pada aturan kompetisi agar dapat terus menjadi ajang pemersatu lintas negara.

 

Tekanan untuk mengecualikan Israel juga datang dari gerakan No Music For Genocide yang merilis surat terbuka berisi seruan boikot Eurovision jika Israel tetap diikutsertakan. Surat tersebut ditandatangani lebih dari 1.100 pekerja budaya dan musisi internasional, termasuk Brian Eno, Massive Attack, Paloma Faith, Paul Weller, IDLES, Sigur Rós, Young Fathers, Mogwai, Macklemore, Roger Waters, hingga Peter Gabriel.

 

Kontroversi ini kembali menyoroti bagaimana ajang musik global seperti Eurovision tidak sepenuhnya lepas dari dinamika politik internasional, sekaligus memunculkan perdebatan mengenai batas antara promosi budaya dan kepentingan negara dalam panggung hiburan dunia.

 

Teks: El Flaco

Tinggalkan Komentar

Kirim Komentar