Foto: IG @dragonforcehq
Band power metal ekstrem asal Inggris, DragonForce, resmi memasuki era baru dalam perjalanan karier mereka dengan mengumumkan bergabungnya Alissa White-Gluz sebagai anggota terbaru sekaligus frontwoman pertama dalam sejarah band.
Kolaborasi ini mempertemukan dua kekuatan besar dalam dunia metal modern, menandai fase paling berani dan ambisius bagi grup yang dikenal sebagai salah satu band tercepat di dunia tersebut.
Debut panggung DragonForce bersama White-Gluz akan dimulai pada 9 Mei di festival Welcome To Rockville, disusul penampilan pada 17 Mei di Sonic Temple Art & Music Festival. Rangkaian konser ini sekaligus menjadi pembuka perayaan 20 tahun album legendaris Inhuman Rampage, rilisan tahun 2006 yang melahirkan anthem global Through The Fire And Flames.
Lagu tersebut sukses besar secara internasional, bertahan selama 23 minggu di tangga lagu Billboard 200 dan meraih sertifikasi emas, sekaligus memperluas basis penggemar DragonForce ke jutaan pendengar baru di seluruh dunia.
Gitaris sekaligus pendiri band, Herman Li, menyebut kehadiran Alissa sebagai langkah evolusi alami bagi DragonForce. Menurutnya, setelah dua dekade bertahan di industri musik, band masih memiliki semangat besar untuk terus berkembang.
Ia menilai Alissa tidak hanya membawa kualitas vokal luar biasa, tetapi juga meningkatkan keseluruhan dinamika musikal band, terutama dalam penampilan live yang semakin eksplosif.
Alissa White-Gluz sendiri dikenal luas sebagai salah satu vokalis metal paling berpengaruh generasi modern. Kariernya mencakup perjalanan bersama The Agonist, Kamelot, hingga Arch Enemy, serta proyek terbarunya Blue Medusa.
Selama lebih dari dua dekade di panggung musik, ia membangun reputasi sebagai sosok vokalis dengan teknik ekstrem sekaligus melodik, mengangkat tema lirik yang menyentuh filsafat, psikologi, etika, hingga pengalaman manusia.
Dalam pernyataannya, Alissa mengaku sangat antusias membawakan materi ikonik DragonForce bersama para musisi yang ia sebut luar biasa. Ia melihat kolaborasi ini sebagai kesempatan untuk mengeksplorasi seluruh warna vokalnya melalui lagu-lagu yang teknis, energik, dan penuh tantangan musikal.
Baginya, perjalanan baru ini juga menjadi cara untuk terus mendorong batas kreativitas sekaligus memberikan pengalaman live terbaik bagi para penggemar metal di seluruh dunia.
Didirikan pada 1999 dan berbasis antara Los Angeles serta London, DragonForce dikenal karena gaya permainan super cepat yang mendobrak batas teknis musik heavy metal. Popularitas mereka semakin melejit ketika Through The Fire And Flames menjadi tantangan legendaris dalam game Guitar Hero III: Legends Of Rock.
Band ini juga terus menjangkau audiens lintas generasi lewat kemunculan musik mereka dalam berbagai media hiburan modern, termasuk film Despicable Me 4 serta berbagai platform gim populer.
Dengan tur dunia yang akan segera diumumkan serta pengerjaan album studio kesepuluh yang tengah berlangsung, DragonForce memastikan satu hal: band tercepat di dunia ini sama sekali belum berniat melambat.
Teks: El Flaco
Tinggalkan Komentar
Kirim Komentar