Foto: IG / Dimmu Borgir
Band symphonic black metal asal Norwegia, Dimmu Borgir, bersiap merilis album terbaru bertajuk Grand Serpent Rising pada 22 Mei 2026 melalui Nuclear Blast Records. Album ini menjadi karya lanjutan setelah perilisan Eonian pada 2018, sekaligus menandai perjalanan panjang delapan tahun penuh perubahan bagi band tersebut.
Gitaris Sven “Sven Kopperud” atau Silenoz menegaskan bahwa Dimmu Borgir tidak pernah menentukan arah musik sejak awal proses penulisan lagu. Menurutnya, identitas album justru terbentuk secara alami setelah beberapa lagu mulai tercipta. Tidak ada formula khusus atau resep baku dalam berkarya—band hanya fokus menciptakan musik yang mereka sendiri ingin dengarkan. Pendekatan spontan ini membuat setiap album berkembang secara organik tanpa tekanan mengikuti tren tertentu.
Secara musikal, Grand Serpent Rising masih mempertahankan unsur simfonik khas Dimmu Borgir, namun hadir dengan nuansa yang disebut lebih gelap, berat, dan agresif. Silenoz menjelaskan bahwa dinamika lagu menjadi perhatian utama, di mana komposisi berbasis gitar maupun aransemen sinematik megah diberi ruang masing-masing untuk bersinar. Proses mixing memainkan peran penting karena album ini dipenuhi banyak lapisan suara, mulai dari melodi hingga disharmoni, yang semuanya dirancang untuk membangun atmosfer khas band.
Bagi Dimmu Borgir, jeda panjang antar album bukanlah kelemahan, melainkan pilihan sadar. Silenoz mengakui mereka sebenarnya bisa saja membuat sekuel cepat dari album klasik seperti Enthrone Darkness Triumphant, tetapi itu dianggap sebagai jalan mudah yang sejak awal selalu mereka hindari. Band ini memilih terus bereksperimen dan mengikuti arah kreatif mereka sendiri tanpa kompromi.
Konsep “ular” dalam judul album juga menjadi simbol penting. Silenoz menggambarkannya sebagai proses pergantian kulit—metafora perubahan dan pembaruan yang dialami band selama delapan tahun terakhir. Banyak hal harus ditinggalkan demi menghasilkan karya terbaik. Baginya, pencapaian besar tidak pernah datang tanpa pengorbanan, dan kualitas selalu lebih penting dibanding kuantitas.
Dalam proses produksi, Dimmu Borgir juga harus rela membuang banyak materi musik yang sebenarnya bagus namun tidak sesuai dengan keseluruhan konsep album. Silenoz menyebut keputusan “memotong lemak” ini sebagai bagian sulit tetapi penting dalam menjadi seorang seniman: setiap elemen harus melayani lagu, bukan sekadar dimasukkan demi kepentingan ego kreatif.
Menariknya, band ini berusaha menyingkirkan ekspektasi berlebihan selama penulisan lagu. Silenoz percaya karya terbaik justru lahir ketika musisi tidak mengejar imbalan atau pengakuan. Meski tetap menghargai dukungan penggemar, Dimmu Borgir mengaku akan tetap membuat musik dalam kondisi apa pun karena berkarya sudah menjadi bagian dari identitas mereka.
Kini, Grand Serpent Rising hadir sebagai kumpulan lagu yang diyakini band sebagai representasi terbaik fase terbaru perjalanan mereka. Apakah album ini akan menjadi salah satu rilisan terbaik dalam katalog panjang Dimmu Borgir, waktu yang akan menjawab. Namun satu hal jelas: setelah lebih dari dua dekade berkarya, mereka tetap teguh pada prinsip yang sama—tidak mengambil jalan pintas dan tidak pernah berkompromi dengan visi musiknya.
Teks: El Flaco
Tinggalkan Komentar
Kirim Komentar