Foto: IG @socialdiatortion
Legenda punk rock asal Amerika Serikat, Social Distortion, resmi merilis single terbaru berjudul Partners In Crime sebagai materi lanjutan dari album kedelapan mereka, Born To Kill. Lagu tersebut menjadi gambaran awal arah musikal album baru yang telah lama dinantikan penggemar setelah jeda perilisan album selama 15 tahun.
Pendiri sekaligus vokalis band, Mike Ness, menjelaskan dalam keterangan resmi yang diterima redaksi bahwa “Partners In Crime” berbicara tentang menemukan suara dan identitas diri, terutama bagi mereka yang sebelumnya merasa tidak didengar. Lagu ini juga menekankan pentingnya solidaritas dan kekuatan yang muncul ketika individu dengan keresahan serta semangat yang sama saling menemukan satu sama lain.
Album Born To Kill dijadwalkan rilis pada 8 Mei melalui label Epitaph Records. Karya terbaru ini disebut sebagai refleksi perjalanan panjang band, menghadirkan 11 lagu penuh energi rock ‘n’ roll yang memadukan kemarahan, kegembiraan, serta katarsis emosional. Album ini juga menjadi rilisan pertama Social Distortion setelah Ness menjalani pemulihan dari kanker, menghadirkan nuansa optimisme agresif yang terasa kuat sejak lagu pembuka hingga penutup.
Secara musikal, album tersebut sarat penghormatan terhadap ikon rock klasik. Referensi terhadap Lou Reed, Iggy Pop bersama The Stooges, hingga David Bowie menjadi bagian dari DNA kreatif album ini. Meski menampilkan pengaruh kuat dari para legenda, Social Distortion tetap mempertahankan identitas khas mereka melalui lagu-lagu anthem dan balada emosional yang merefleksikan masa lalu sekaligus arah masa depan band.
Album Born To Kill diproduseri bersama oleh Ness dan Dave Sardy, serta menghadirkan sejumlah kolaborator ternama. Musisi keyboard Benmont Tench dari Tom Petty and the Heartbreakers turut tampil sebagai bintang tamu, bersama penyanyi country rock Lucinda Williams. Sementara itu, desain sampul album digarap secara kolaboratif antara Ness dan seniman visual Shepard Fairey.
Untuk mendukung perilisan album, Social Distortion juga menyiapkan tur besar di Amerika Utara yang akan dimulai pada 25 Agustus di Phoenix dan mencakup 25 konser di 22 kota sebelum berakhir di San Diego pada 3 Oktober. Tur ini menandai kembalinya band ke panggung besar setelah masa sulit yang sempat menghentikan aktivitas mereka.
Dalam wawancara akhir 2025, Ness mengungkapkan bahwa diagnosis kanker amandel pada 2023 menjadi pengalaman paling berat dalam hidupnya. Ia bahkan sempat takut tidak dapat bertahan hidup. Proses operasi dan pemulihan membuatnya harus belajar kembali makan, menelan, hingga memulihkan kemampuan vokal. Kini, melalui Born To Kill, Ness dan Social Distortion menegaskan kebangkitan mereka sekaligus merayakan lebih dari empat dekade perjalanan rock ‘n’ roll yang penuh perlawanan dan ketahanan.
Teks: El Flaco
Tinggalkan Komentar
Kirim Komentar